Panganpedia – “Saya kira kacang pistachio, pas dicicip kok rasanya aneh…barulah saya sadar ternyata bukan pistachio. Trus kacang yang saya makan itu apa ya, kok dijual di deretan deket sayuran?”, tanya salah seorang teman di sela-sela obrolan makan siang beberapa minggu yang lalu…

Karena selama ini saya pun memiliki prasangka yang sama, dan rasa penasaran pun memuncak di hati, akhirnya beberapa hari lalu saya membahas si “kacang” ini dengan partner kerja di laboratorium.

Dan terjawablah si kacang mirip pistachio ini : “Ginkgo Nut”.

Seketika ingatan ketika masih duduk di bangku kuliah, saat melihat pohon Ginkgo biloba yang daunnya menguning, seorang teman Jepang nyeletuk: “Buahnya enak dimakan lho”. 😀 😀 Kok saya lupa obrolan ini pernah ada ya ?

Adakah dari anda pengunjung Panganpedia yang juga berprasangka hal yang sama ? Agar tidak memunculkan prasangka lain, mari kita kupas artikel Ginkgo biloba ini sambil mengupas kacangnya 😀

Sekilas tentang Ginkgo biloba

Barangkali saat mendengar kata ginkgo biloba, yang tergambar dalam pikiran kita adalah produk shampoo atau obat yang mengandung ekstraknya. Tapi memang benar, dikenal lama sebagai traditional Chinese medicine, tanaman ini disebut living fossil karena mampu bertahan hidup selama lebih dari 180 juta tahun. Bukan hanya dimanfaatkan buahnya saja, bagian daunnya yang akan menguning dengan indah di musim gugur pun ternyata memiliki berbagai khasiat.  Kandungan kimia dari ekstrak daun Ginkgo biloba ditemukan sebagai flavonoid, alkylphenol, asam karboksilat, terpene lactones, dan juga polyprenol. Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa polyprenol merupakan salah satu kandungan kimia yang khas dari daun tanaman ini. Beberapa aktivitas biologis yang dimiliki senyawa ini yakni antivirus, meningkatkan imunitas tubuh, memory disorder, dan juga berkhasiat untuk penyakit cardiovascular.

Indahnya pohon ginkgo biloba di musim gugur. Sumber: google

Buah dan Biji Ginkgo biloba

Fakta mengejutkannya, hanya female trees yang dapat menghasilkan buah ginkgo. Bentuk khas bulat agak memanjang, dan berwarna kuning saat matang. Tapi jangan langsung makan ya! Bagian buah yang dikonsumsi adalah biji bagian dalam, karena bagian buah luarnya yang disebut sarcotesta memiliki bau yang khas seperti muntahan karena kandungan asam butirat (terbayang kah baunya??). Sebelum dikonsumsi, buah ginkgo perlu direndam dalam air selama 1-2jam agar bisa dengan mudah memisahkan bagian biji dan daging buahnya. Dilanjutkan dengan proses pengeringan dengan oven 80℃ selama 30 sampai 60 menit. Dengan proses ini, Ginkgo nut bisa tahan simpan hingga satu bulan dalam wadah tertutup. Penampakan Ginkgo nut sekilas memang mirip seperti pistachio nut (atau hanya imajinasi penulis saja?). Jadi tidak heran kan kalau beberapa orang seperti saya dan teman saya merasakan kembarnya mereka saat berada di supermarket.

Ginkgo biloba seed

 

Pistachio nut

 

 

Ginkgo biloba fruit

Ginkgo nut atau ginnan di Jepang, biasa dijadikan olahan makanan. Terlebih lagi, kalau anda berkunjung ke Negara Jepang pada musim gugur dan menikmati cawanmushi, pasti anda akan menemui si ginnan di dalamnya. Olahan lainnya yakni ditanak bersama nasi, ditumis dengan sayur lain, bahkan dijadikan snack ringan.

Pertanyaan seperti biasa, kandungan nutrisinya ?

Tidak banyak orang mengkonsumsi Ginkgo nut ini, padahal kita bisa mendapatkan banyak manfaat dari bijinya lho. Per 100 gramnya, Ginkgo nut mengandung energi sebayak 182 kkal, karbohidrat 37.6 gr, protein 4.32 gr, vitamin C 15 mg, niasin 6 mg, vitamin A 558 IU, kalium 510 mg, magnesium 27 mg, kalsium 2 mg, dan 0 kolesterol 😊.  (Source: USDA National Nutrient data base)

Selain memperoleh kandungan makro dan mikronutrien di atas, mengkonsumsi Ginkgo nut juga bisa membantu meningkatkan memori, membantu tubuh kita melawan kanker karena kandungan antioksidannya. Hebatnya, setelah proses pemasakan, kandungan antioksidan dari Ginkgo nut meningkat hingga 60% lho! Tapi perlu diketahui, konsumsi berlebihan (40-300 biji untuk orang dewasa) bisa menyebabkan keracunan karena adanya kandungan 4-O-methylpyridoxine atau lebih dikenal sebagai ginkgotoxin di dalamnya. Tidak perlu khawatir, asal dikonsumsi secara normal, banyak manfaat kesehatan yang bisa kita dapat. Jadi, Anda mau coba ?

 

Sumber:

  1. Singh, B.; Kaur, P.; Singh, R.D.; Ahuja, P.S. Biology and chemistry of Ginkgo biloba. Fitoterapia 2008, 79,401–418. [CrossRef] [PubMed]
  2. Van Beek, T.A. Chemical analysis of Ginkgo biloba leaves and extracts. J. Chromatogr. A 2002, 967, 21–55.[CrossRef]
  3. Yang, L.;Wang, C.Z.; Ye, J.Z.; Li, H.T. Hepatoprotective effects of polyprenols from GBL on CCl4-induced hepatotoxicity in rats. Fitoterapia 2011, 82, 834–840. [CrossRef] [PubMed]
  4. homeguides.sfgate.com

Leave a Reply