lactose-intolerance-susu

Lactose Intolerance adalah suatu kondisi dimana tubuh tidak dapat mencerna laktosa karena tidak diproduksinya enzim laktase. Akibatnya, seseorang tersebut tidak akan dapat mengkonsumsi susu.

Pada masa kanak-kanak, laktase diproduksi secara alami oleh tubuh sehingga tubuh dapat mencerna Air Susu Ibu. Kemampuan ini makin lama makin memudar seiring bertambahnya usia, karena tubuh memberi ‘sinyal’ bahwa kita tidak lagi butuh ASI untuk bertahan hidup. Bahkan, hanya 35% dari total populasi manusia yang dapat mencerna laktosa diatas usia 6 atau 7 tahun.

Uniknya, ada sejarah panjang mengenai bagaimana sejarah pencernaan manusia terhadap susu yang berhasil diungkap oleh kelompok arkeolog bekerjasama dengan ahli kimia dan genetika, demikian dilansir dari Nature.

Sejarah Lactose Intolerance

Susu awalnya tidak dikonsumsi manusia. Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang dirangkum oleh Nature, pada zaman es, susu merupakan toksin (racun) bagi orang dewasa karena tidak adanya enzim laktase di dalam tubuh sehingga laktosa pada susu tidak dapat tercerna dengan baik. Jika memaksakan minum susu, tubuh akan mengalami diare.

Pergeseran zaman berburu menjadi bertani dan beternak (Neolitikum) di Timur Tengah pada 11 ribu tahun lalu membuat para peternak belajar mengurangi kadar laktosa pada susu sampai pada batas toleransi tertentu. Caranya, mereka mengolah susu menjadi keju atau yogurt.

sejarah-susu

Beberapa ribu tahun kemudian, mutasi genetik menyebar ke seluruh Eropa sehingga manusia mampu memproduksi enzim laktase dan akhirnya dapat meminum susu. Adaptasi ini mampu membuka sumber gizi baru sebagai alternatif kalau-kalau terjadi kegagalan panen di masa itu.

Migrasi para peternak dan petani kemudian secara cepat berlangsung dari daerah selatan ke daerah-daerah utara, hingga Eropa utara. “Mereka menyebar secara cepat ke Eropa Utara dari sudut pandang arkeolog,” tukas Mark Thomas, ahli genetika populasi dari University College London. Hal inilah yang menyebabkan Eropa menjadi satu-satunya wilayah dengan tingkat lactose intolerance yang rendah.

Mutasi genetik ini dapat dilacak dari para nenek moyang di Eropa, dimana hal ini dikaitkan dengan nukleotida tunggal dimana base DNA sitosin berubah menjadi tiamin pada daerah genomik yang tidak jauh dari gen laktase. Beberapa kasus mutasi terpisah juga diperkirakan terjadi di Afrika Barat, Timur Tengah dan Asia Selatan (Lihat Lactase Hotspots).

peta-laktase

Nah, kini meminum susu bukan hal yang tabu lagi di kalangan masyarakat kita. Apalagi susu mengandung banyak manfaat bagi tubuh, terutama dalam mencukupi kebutuhan protein dan kalsium. Sayangnya, konsumsi susu masih belum menjadi favorit pada masyarakat Indonesia karena susu masih dianggap sebagai bahan pangan yang mahal.

 

Sumber:

Check, E. 2006. Human Evolution: How Africa Learned to Love the Cow. Nature 444, 994-996. doi:10.1038/444994a.

Leonardi, M., Gerbault, P., Thomas, M. G. & Burger, J. Int. Dairy J. 22, 8897 (2012).

Nature 500, 20-22. (1 Agustus 2013)

 

 

Leave a Reply