Home Asal Kamu Tahu Sejarah Gula: Manisnya Perjalanan Gula dari Masa Lalu Hingga Sekarang

Sejarah Gula: Manisnya Perjalanan Gula dari Masa Lalu Hingga Sekarang

0
5
Sejarah gula

Apakah kamu tahu bahwa gula telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia selama berabad-abad? Gula, yang bisa membuat makanan dan minuman kita terasa lebih manis, memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi sejarah gula, dari asal-usulnya hingga perkembangan modernnya. Bersiap-siaplah untuk merasakan manisnya perjalanan gula ini!

Awal Mula Gula: Dari Polinesia ke India

Gula tebu diperkirakan  pertama kali digunakan oleh manusia di Polinesia, kemudian menyebar ke India. Pada tahun 510 SM, Kaisar Darius dari Persia saat itu menyerang India dan menemukan “batang tebu yang menghasilkan madu tanpa lebah”. Rahasia pembuatan gula tebu, seperti banyak penemuan manusia lainnya, dijaga dengan ketat, sementara produk jadi diekspor dengan keuntungan besar.

Rahasia Gula Terungkap: Penyebaran oleh Bangsa Arab

Ekspansi bangsa Arab pada abad ke-7 Masehi merupakan titik balik bagi penyebaran rahasia gula. Ketika mereka menaklukkan Persia pada tahun 642 Masehi, mereka menemukan perkebunan gula tebu dan belajar cara membuat gula. Dalam perluasan mereka, mereka mendirikan produksi gula di wilayah-wilayah lain yang mereka taklukkan, termasuk Afrika Utara dan Spanyol.

Pencapaian Baru: Gula Ditemukan oleh Eropa Barat

Gula baru ditemukan oleh orang-orang Eropa Barat sebagai hasil dari Perang Salib pada abad ke-11 Masehi. Para prajurit Salib yang pulang ke tanah air mereka bercerita tentang “rempah-rempah baru” ini dan betapa enaknya rasanya. Gula pertama kali dicatat di Inggris pada tahun 1099. Abad-abad berikutnya menyaksikan ekspansi perdagangan Eropa Barat dengan Timur yang pesat, termasuk impor gula. Tercatat bahwa gula tersedia di London dengan harga “dua shilling per pon” pada tahun 1319 Masehi. Ini setara dengan beberapa bulan upah buruh rata-rata, sehingga gula sangatlah mewah pada zaman itu. Orang kaya menikmati membuat patung dari gula untuk menghiasi meja mereka. Ketika Raja Henry III dari Prancis mengunjungi Venesia, pesta yang diberikan untuk menghormatinya menampilkan piring, peralatan makan perak, dan linen yang semuanya terbuat dari gula yang dipintal. Gula, karena harganya yang mahal, seringkali juga dianggap sebagai obat. Banyak panduan medis pada abad ke-13 hingga ke-15 merekomendasikan memberikan gula kepada orang yang sakit untuk meningkatkan kekuatan mereka.

Venesia dan Monopoli Gula

Pada abad ke-15 Masehi, gula Eropa sebagian besar diolah di Venesia. Monopoli Venesia ini hilang pada tahun 1498, ketika Vasco da Gama pergi ke India dan memulai perdagangan gula. Namun, penemuan Amerika lah yang mengubah konsumsi gula di dunia. Pada salah satu perjalanannya, Columbus membawa bibit tebu gula yang kemudian ditanam di Karibia. Iklim di sana sangat menguntungkan bagi pertumbuhan tebu, sehingga industri gula segera berkembang pesat. Gula sangat dibutuhkan di Eropa sehingga banyak pulau Karibia jadi hampir gundul untuk menciptakan ladang tebu, seperti Barbados, Antigua, dan setengah dari Tobago.

Gula dan Perbudakan

Tanaman tebu gula ditanam secara massal. Jutaan orang dipindahkan dari jauh, dari Afrika dan India, untuk bekerja di ladang-ladang tebu gula. Produksi gula sangat erat hubungannya dengan perdagangan budak Barat. Gula begitu penting secara ekonomi sehingga semua kekuatan Eropa mendirikan atau berusaha mendirikan koloni di pulau-pulau Karibia kecil tersebut, dan banyak pertempuran terjadi untuk menguasai pulau-pulau tersebut. Kemudian, tebu gula ditanam di perkebunan besar di wilayah lain di dunia (India, Indonesia, Filipina, dan Pasifik) untuk pasar Eropa dan lokal. Pada tahun 1750, terdapat 120 pabrik gula rafinasi yang beroperasi di Britania Raya. Produksi gabungan mereka hanya mencapai 30.000 ton per tahun. Pada saat ini, gula masih merupakan barang mewah dan keuntungan yang besar diperoleh sehingga gula disebut “emas putih”. Situasi di negara-negara Eropa Barat lainnya serupa. Pemerintah menyadari keuntungan besar yang dapat diperoleh dari gula dan memberi pajak yang tinggi. Gula tetap menjadi barang mewah. Situasi ini berlangsung hingga akhir abad ke-19 ketika sebagian besar pemerintah mengurangi atau menghapuskan pajak gula dan menghadirkan harga gula yang terjangkau bagi warga biasa.

Gula Bit: Pengganti Gula Tebu

Gula bit pertama kali diidentifikasi sebagai sumber gula pada tahun 1747. Tidak diragukan lagi, kepentingan nasional dan ekonomi dalam perkebunan tebu gula memastikan bahwa gula bit tetap sebagai hal yang menarik di banyak negara Eropa. Situasi ini berlangsung hingga Perang Napoleon pada awal abad ke-19 ketika Britania memblokade impor gula ke Eropa daratan. Pada tahun 1880, gula bit menggantikan tebu gula sebagai sumber utama gula di Eropa daratan. Pengenalan gula bit ke Inggris tertunda hingga Perang Dunia Pertama ketika impor gula Britania terancam. Sebelumnya, Britania Raya mengimpor gula tebu utamanya dari koloni-koloni tropisnya.

Gula Masa Kini

Saat ini, konsumsi gula tahunan mencapai sekitar 120 juta ton dan terus berkembang sekitar 2 juta ton per tahun. Uni Eropa, Brasil, dan India adalah tiga produsen teratas yang bersama-sama menyumbang sekitar 40% dari produksi tahunan. Namun, sebagian besar gula dikonsumsi di negara tempat produksinya dan hanya sekitar 25% yang diperdagangkan secara internasional. Tebu gula ditanam di lebih dari 100 negara dan jumlah gula dari tebu sekitar 6 kali lebih tinggi daripada gula bit.

Dari Polinesia ke India, dari rahasia yang terungkap hingga perdagangan internasional, gula telah mengalami perjalanan yang panjang dan menarik. Dalam sejarahnya, gula telah menjadi komoditas penting yang mempengaruhi ekonomi, budaya, dan kehidupan manusia. Kita tidak bisa membayangkan hidup tanpa manisnya gula. Jadi, saat kamu menikmati makanan manis atau minuman kesukaanmu, ingatlah akan perjalanan gula ini dan hargailah manisnya sejarah yang ada di setiap gigitan!

 

Referensi: Food-Info

NO COMMENTS

Tinggalkan komentar