Panganpedia – Pada tahun 2050, PBB memprediksi populasi dunia ini akan mencapai 9,7 milliar orang, atau naik sekitar 27% dari populasi saat ini sekitar 7,6 milliar. Negara- negara maju memiliki perhatian khusus terhadap situasi ini. Mereka mulai fokus untuk mencari cara bagaimana menyediakan pangan yang mencukupi bagi seluruh umat manusia di masa datang. Sistem produksi pangan yang sustainable atau berkelanjutan adalah solusinya.

Bicara pangan yang berkelanjutan, maka sangatlah erat kaitannya dengan produksi yang ramah lingkungan. Produk dairy secara umum dianggap tidak sustainable karena sapi menghasilkan gas metana yang merupakan pemicu efek rumah kaca, ditambah dengan penggunaan lahan dan air yang ekstensif, serta kebutuhan pangan sapi yang jumlahnya tidak sedikit. Oleh karena itu, makanan berbasis tanaman (plant-based) sering digadang- gadang menjadi solusinya.

Kampanye pangan yang berkelanjutan mulai gencar dilaksanakan di negara barat. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga melibatkan berbagai pihak seperti akademisi, industri, serta masyarakat sebagai konsumen. Hasilnya masyarakat mulai menyadari bahwa sudah saatnya mereka mengurangi konsumsi protein hewani dan beralih kepada makanan berbasis tanaman. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mengurangi konsumsi daging dan produk dairy lainnya, atau tak sedikit yang mulai beralih kepada gaya hidup vegetarian atau vegan. Selain ramah lingkungan, gaya hidup tersebut juga dipercaya menjadi tren gaya hidup sehat.

Industri pangan pun memberikan tanggapan menyusul perilaku konsumen yang mulai berubah dengan melakukan inovasi produk berbasis tanaman. Di Eropa misalnya, kita dengan mudah dapat menemukan berbagai alternatif produk hewani di rak-rak supermarket. Bahkan, seringkali supermarket besar memberikan rak khusus untuk produk vegetarian. Salah satu yang menarik adalah munculnya berbagai produk susu yang tidak lagi diproduksi dari sapi, melainkan dari protein nabati, misalnya dari kedelai, almond, kacang mede, bahkan dari beras. Ketersediaan berbagai varian produk ini membuat konsumen memiliki banyak alternatif pilihan yang dapat disesuaikan dengan selera mereka.

Bagaimana dengan harga susu “imitasi” ini?

Harga susu berbasis tanaman ini dibanderol lebih mahal daripada susu sapi. Sebagai perbandingan, jika 1 liter susu sapi seharga 1-1,3 euro; maka susu kedelai dan teman- temannya bisa dibeli dengan harga minimal 1,75 euro, atau sekitar 50-75% lebih mahal!

Kalau dengan segi gizinya, bagaimana?

Susu non-sapi bisa menjadi alternatif bagi mereka yang tidak dapat mengonsumsi produk dairy karena alasan kesehatan seperti lactose-intolerance dan alergi susu, atau mereka yang memang menghindari produk dairy karena berbagai alasan lain seperti alasan lingkungan dan animal welfare.

Namun, berbicara masalah kandungan gizi, setiap jenis susu tersebut ternyata memiliki jenis dan jumlah gizi yang berbeda tergantung bahan dasar dan proses pengolahannya. Tak jarang untuk mendapatkan zat gizi yang lengkap dan memadai, maka dilakukan fortifikasi atau penambahan gizi seperti kalsium, vitamin B2, B12, Vitamin D, dan vitamin E. Jadi, pastikan untuk membaca label nutrisi sebelum membeli ya.

Bagaimana dengan kamu, apakah kamu akan terus minum susu sapi? Atau berminat mengikuti tren susu nabati ini? Tulis pendapat kamu di kolom komentar.

*) disarikan dari berbagai sumber

Leave a Reply