Salah satu ciri konsumen yang cerdas dalam memilih pangan adalah mengamati label yang ada pada produk pangan. Beberapa produk pangan akan dilabeli kata “Fortifikasi dengan ABC” atau “Difortifikasi dengan XYZ”. Sebenarnya, apa arti istilah “Fortifikasi” dan mengapa fortifikasi pangan menjadi penting?

Arti sederhana dari fortifikasi pangan adalah penambahan zat gizi mikro (berupa vitamin dan mineral) ke dalam suatu bahan pangan. Tujuannya adalah agar pangan menjadi lebih bergizi dengan penambahan zat fortifikan.

Bigger Task: Perbaikan Gizi Populasi

Untuk skala populasi yang besar, fortifikasi pangan bisa menjadi langkah efektif untuk memperbaiki kualitas gizi. Pada bulan Maret 2011 misalnya, sudah ada 60 negara yang memfortifikasi tepung terigu dengan besi (Fe) atau asam folat. Pada kasus lain, sebanyak 125 negara berkembang sudah menerapkan fortifikasi garam dengan iodium.

Program fortifikasi pangan bisa dilakukan untuk membantu kebutuhan zat gizi tertentu yang kurang pada populasi. Karena itu, kini banyak bahan pangan yang kerap difortifikasi, misalnya garam, tepung terigu, susu, minyak, dan margarin.

Status gizi populasi dapat dilihat dengan indikator klinis tentang defisiensi. Misalnya, orang dengan defisiensi vitamin A dapat diukur dengan indikator serum retnol yang rendah maupun prevalensi penyakit rabun senja. Defisiensi besi diukur dengan prevalensi level serum ferritin maupun prevalensi anemia. Defisiensi asam folat diukur dengan  prevalensi folat yang rendah, juga dapat diukur dengan prevalensi neural tube defect.

World Health Organization (WHO) sebenarnya telah memonitor perkiraan defisiensi zat gizi di seluruh dunia. Anemia adalah kasus defisiensi zat gizi paling umum yang terjadi di seluruh dunia. Defisiensi vitamin A pada anak-anak juga cukup mendapat perhatian. Tingginya prevalensi anemia dan defisiensi vitamin A biasanya diikuti dengan defisiensi lainnya, misalnya seng, vitamin B2 dan B12 karena zat gizi mikro tersebut biasanya terkandung pada sumber hewani.

Selain anemia dan defisiensi vitamin A, juga ada defisiensi besi, folat, iodin, seng, dan vitamin B12 yang paling umum terjadi di dunia.

Bagaimana Menentukan Jumlah Zat Gizi yang Difortifikasi?

Menentukan zat gizi yang difortifikasi dapat disesuaikan dengan keadaan populasi dan tujuan awal yang ingin dicapai dalam program perbaikan gizi. Pada tahap ini, perlu diperhatikan aspek-aspek seperti sifat fisik, kimia, dan sensoris saat produk difortifikasi (karena sudah pasti produk akan mengalami perubahan), juga biaya produksi. Hal yang juga sangat penting adalah keefektifan dan keefisienan fortifikasi serta potensi terjadinya konsumsi vitamin dan mineral yang berlebihan.

Beberapa contoh penambahan zat gizi dapat dilihat pada tabl berikut.

fortifikasi-pangan-1
Contoh zat gizi yang dimasukkan ke dalam pangan

Nah, meski terlihat sepele, ternyata fortifikasi bermanfaat sekali ya untuk memenuhi kebutuhan gizi kita. Oleh karena itu, jadilah konsumen yang cerdas dengan memperhatikan makanan yang kita konsumsi. 🙂

 

Sumber:

Flores-Ayala, R.C. Food Fortification: Programs. Encyclopedia of Human Nutrition, volume 2. Elsevier Ltd.

 

Daftar Istilah:

  1. Defisiensi: Kondisi kekurangan

2. Prevalensi: seberapa sering penyakit atau suatu kondisi dialami sekelompok orang. Prevalensi dihitung dengan membagi jumlah orang dengan kondisi tertentu dengan total populasi.

3. Neural tube defect : kelainan janin dimana susunan pusat syaraf tidak sempurna.

1 COMMENT

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Teknologi Pangan.
    Dengan membaca artikel anda, pemahaman saya tentang hal tersebut menjadi bertambah.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di Pertanian.

Leave a Reply