Panganpedia – Makan soto atau makan makanan berkuah lainnya, tentu tak sedap rasanya jika tak mengambil kerupuk dari blek-nya. Ya, makanan ini ringan dan renyah, disamping juga harganya yang tak terlalu mahal. Umumnya, kerupuk dijual terpisah dalam blek atau juga dijual sepaket dengan makanan, misalnya dalam bubur ayam.

Pernahkah Anda bertanya-tanya, adakah nilai gizi kerupuk yang Anda makan? Hehehe, sambil iseng mengunyah si putih yang kres-kres ini, yuk kita simak serba-serbi kerupuk yang dikupas Panganpedia berikut ini.

Kerupuk yang dikonsumsi masyarakat punya beragam bentuk dan komposisi bahan yang bermacam-macam. Sebut saja kerupuk putih biasa, kerupuk udang, kemplang, kerupuk pasir, dan lain sebagainya. Saat ini, kita coba bahas kerupuk putih, yuk!

Sains Dibalik Kelezatan Kerupuk

Salah satu kerupuk yang populer adalah kerupuk putih biasa, yang dibuat dengan rangkaian ikatan bulat berbentuk mawar dan dijual dalam blek. Komposisi bahannya terdiri dari tepung terigu, tepung tapioka, air, dan bumbu-bumbu seperti bawang putih, gula, garam, dan penyedap rasa.

Awalnya, bawang putih halus digoreng terlebih dahulu. Bawang putih kemudian dicampurkan ke dalam bumbu-bumbu lainnya, kemudian bersama-sama dicampurkan ke dalam tepung tapioka dan tepung terigu dan diuleni dengan menambah sejumlah air. Adonan tersebut dimasak dan diaduk, kemudian dimasukkan ke mesin pencetak adonan. Selesai proses pencetakan, kerupuk kembali direbus. Kerupuk lalu dijemur agar cepat kering. Setelah kering merata, barulah kemudian kerupuk digoreng dan dikemas dalam blek/tempat kerupuk.

Mengapa kerupuk bisa mengembang saat digoreng? Pada saat pengukusan, terjadi gelatinisasi pati. Gelatinisasi pati secara simpel adalah kejadian membengkaknya granula pati saat pati dipanaskan. Kejadian ini akan menyebabkan air terperangkap di dalam pati. Nah, pada saat kerupuk mentah digoreng, maka air di dalam molekul pati akan berusaha keluar sehingga mendesak pati terus-menerus. Akibatnya, kerupuk akan mengembang dan membentuk rongga udara.

Nilai Gizi dalam Kerupuk Putih

Berbicara soal nilai gizi, tentu hal ini berbeda-beda sesuai dengan jenis kerupuk dan komposisi bahannya. Bahkan, kualitas bahannya pun juga turut mempengaruhi nilai gizi. Kerupuk putih umumnya hanya mengandung sejumlah besar karbohidrat (berupa pati) dan lemak yang didapat dari hasil penggorengan. Namun, jika ditambahkan udang atau ikan (beberapa kerupuk menambahkan ikan tengiri atau udang), maka bisa ditemui pula protein di dalamnya. Tetapi, karena hanya bersifat sebagai makanan ringan, maka kerupuk bukan termasuk golongan sumber karbohidrat maupun protein.

Kerupuk Putih Mengandung Plastik?

Pada awal tahun 2016, banyak kabar beredar yang menyebutkan bahwa kerupuk dan beberapa crackers mengandung plastik karena akan menyala jika disulut api. Badan Pengawas Obat dan Makanan kemudian memberikan klarifikasi mengenai hal tersebut dengan beberapa poin yang Panganpedia ringkas sebagai berikut:

“Produk pangan yang memiliki kadar air rendah dan mengandung kadar lemak serta bertekstur tipis berpori (meliputi krupuk dan sejumlah crackers) dapat menyala jika disulut api. Namun hal tersebut tidak membuktikan bahwa ada kandungan plastik di dalamnya. Untuk mendeteksi ada tidaknya kandungan plastik, perlu dilakukan uji laboratorium.”

Nah, kini bagaimana menurut Anda? Masih suka mengkonsumsi kerupuk untuk cemilan, bukan? 🙂

 

Sumber:

http://www.pom.go.id/new/index.php/view/klarifikasi/29/Produk-Pangan-yang-dapat-Menyala-jika-Terbakar.html dan sumber-sumber lainnya.

Leave a Reply