Panganpedia – Reaksi oksidasi merupakan reaksi yang sangat umum ditemukan dalam bahan serta produk pangan. Dengan mengetahui mekanisme reaksi oksidasi, kita akan dapat menemukan jawaban terhadap apa yang terjadi pada kasus-kasus pangan tertentu.

Radikal Bebas Adalah ‘Silent Killer’

Mempelajari tentang radikal bebas membutuhkan pengetahuan dasar kimia. Dalam setiap unsur, atom dikelilingi oleh elektron yang mengorbit pada atom di kulit masing-masing. Setiap kulit akan diisi oleh sejumlah elektron. Jika elektron kulit tersebut penuh, maka elektron akan mengisi kulit berikutnya.

Jika atom mempunyai kulit luar yang elektronnya belum penuh, maka atom tersebut cenderung berikatan dengan atom lain, menggunakan elektronnya untuk melengkapi kulit terluar. RADIKAL BEBAS adalah penyebutan atom tipe ini.

Atom dengan kulit luar yang terisi penuh akan stabil, namun radikal bebas bersifat tidak stabil dan selalu mencari-cari cara untuk memenuhi elektron pada kulit terluarnya.

Salah satu contoh kasus adalah pada Oksigen. Jika molekul oksigen terpecah menjadi atom single (disebut oksigen singlet (1O2)) yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan, mereka akan menjadi radikal bebas yang tidak stabil, dan akan mencari atom atau molekul lain untuk berikatan. Jika ini terjadi, maka proses ini dimulai dengan nama stress oksidatif.

Stress oksidatif dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan sel-sel tubuh, menyebabkan penyakit, dan menyebabkan gejala-gejala penuaan dini, misalnya keriput.

Mengapa Radikal Bebas dapat Merusak Tubuh?

Menurut teori radikal bebas yang pertama kali dikemukakan tahun 1956, radikal bebas dapat merusak sel-sel dari waktu ke waktu. Semakin menua usia, tubuh akan makin kehilangan kemampuan melawan radikal bebas. Maka, semakin banyak radikal bebas, semakin banyak stres oksidatif, dan semakin banyak kerusakan sel, akan mengarah kepada proses degeneratif, yang memicu banyaknya penyakit-penyakit, seperti:

  • Penyakit gangguan syaraf otak, misalnya Alzheimer dan gangguan ingatan;
  • Penyakit kardiovaskuler;
  • Penyakit automimun dan inflamasi, misalnya kanker;
  • Katarak dan penurunan penglihatan;
  • Perubahan yang berkaitan dengan usia, yaitu hilangnya elastisitas kulit, keriput, rambut yang beruban, rambut rontok, dan perubahan tekstur rambut;
  • Diabetes; dan
  • Penyakit degeneratif lain, misalnya Parkinson.

Penelitian pada tikus membuktikan bahwa radikal bebas yang diproduksi di mitokondria dapat merusak “isi” dari sel yang perlu bekerja dengan baik. Kerusakan ini kemudian dapat menyebabkan “penularan” radikal bebas, yang menyebabkan percepatan kerusakan sel.

Darimana Asalnya Radikal Bebas dan Oksidasi?

Radikal bebas dapat berasal dari polusi, paparan sumber toksik (misalnya pestisida), merokok, minum minuman beralkohol, dan makan makanan yang tidak sehat.

Oleh karena itu, kita tidak boleh mengkonsumsi produk-produk yang sudah mengalami oksidasi. Dengan semakin bertambahnya umur, kita justru harus mengkonsumsi produk pangan yang kaya antioksidan agar membantu tubuh melawan oksidasi. Seperti apa mekanisme antioksidan, dapat dilihat disini ya!

 

Sumber: Medical News Today

1 COMMENT

Leave a Reply