Panganpedia – Momen Idul Ad’ha bagi umat muslim selalu identik dengan daging qurban, baik itu daging qurban berupa kambing maupun sapi. Namun, tidak jarang kita bingung untuk mengolahnya dalam sekali waktu. Diolah semua khawatir akan cepat bosan dan tidak habis dimakan, diolah berbagai aneka macam, belum tentu waktu dan tenaga tersedia. Kalau sudah begini, harus diapakan dagingnya?

Baca Juga: Jenis-jenis daging yang perlu anda tahu

Menyimpan daging dalam keadaan segar bisa menjadi salah satu opsi ketika kita memiliki stok daging dan belum mampu untuk mengolahnya. Pada dasarnya, daging merupakan bahan makanan yang mudah rusak. Komponen yang terdapat dalam daging antara lain air, protein, lemak, karbohidrat, vitamin maupun mineral. Kandungan nutrisi yang terdapat dalam daging inilah yang membuat daging mudah terkontaminasi oleh bakteri dan mudah rusak.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menangani daging segar di dapur rumah antara lain kebersihan lingkungan, suhu, serta air. Kebersihan lingkungan menjadi salah satu faktor yang mempercepat kerusakan daging. Hal ini disebabkan adanya resiko kontaminasi silang yang bisa berasal dari alat pemotong daging, maupun lantai dapur rumah kita. Suhu dalam ruangan juga berperan dalam mempercepat kerusakan daging segar, begitu juga dengan air. Air yang tidak bersih serta terindikasi mengandung cemaran bakteri, khususnya bakteri koliform, harus kita waspadai.

Lalu, apakah hubungan faktor-faktor tersebut dengan kerusakan daging?

Faktor-faktor tersebut tentunya hanya sebagai pendukung bertumbuhnya bakteri pembusuk maupun bakteri pathogen. Seperti diketahui, pertumbuhan bakteri tergantung pada beberapa hal, meliputi keteresediaan nutrisi, udara, suhu, ketersediaan air dalam bahan,  serta pH pada suatu waktu. Kandungan nutrisi pada daging, pH, kadar air merupakan faktor intrinsik dalam mendukung pertumbuhan bakteri. Sedangkan suhu, udara (oksigen), waktu  merupakan faktor ekstrinsik pada pertumbuhan bakteri yang bisa kita kendalikan.

Untuk menyimpan daging segar, daging tidak perlu dicuci terlebih dahulu. Click To Tweet

Setelah mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan pada daging, apa yang perlu dilakukan saat menangani daging segar di rumah? Yang pertama, pastikan dapur dan wadah dalam keadaan bersih. Untuk menyimpan daging segar, daging tidak perlu dicuci terlebih dahulu. Adanya air dalam jumlah tinggi akan mengundang mikroorganisme untuk memanfaatkan daging sebagai sumber nutrisi. Selain itu, kadar air yang tinggi juga akan mengubah tekstur daging mejadi lebih keras. Letakkan daging segar pada plastik kemudian simpan pada suhu beku (freezer), dan beri label jika dirasa perlu. Jika memiliki alat vakum, bisa juga diaplikaskan dalam penyimpanan daging segar ini. Ketiadaan udara, khususnya unsur oksigen, akan menghambat pertumbuhan bakteri yang ada. Daging yang disimpan pada suhu rendah maupun beku juga relatif lebih awet disimpan karena bakteri cenderung tidak tumbuh pada suhu yang rendah. Perpaduan dua atau lebih metode pengawetan bahan makanan, seperti aplikasi simpan vakum dan penggunaan suhu rendah rendah pada daging segar, dikenal juga dengan istilah konsep Hurdle.

Nah, untuk mengkonsumsi kembali daging segar dalam keadaan beku, jangan lupa untuk melakukan thawing dulu ya! 🙂

 

Referensi:

Blackburn, C.W. 2006. Food Spoilage Microorganisms. Abington,Cambridge. Woodhead Publishing.

Leave a Reply